Nama               : Hamdayanty                         Tgl praktikum  : 30 Maret 2010

Elysa Fitri                              Bahan tanaman: Phaseolus radiatus

Mayor              : Proteksi Tanaman             Asisten: Vitria Melani    G34050386

Kelompok       : Enam                                                   Risa Swandari W  G34062569

PENGARUH OSMOTIK KONSENTRASI GARAM HARA TERHADAP ABSORBSI AIR DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

  1. I. Tujuan

Melihat pengaruh osmotik dari konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air dan pertumbuhan tanaman

  1. II. Pendahuluan

Konsentrasi garam hara yang tinggi pada suatu tanaman disebut stress garam. Stres garam merupakan salah-satu dari antara enam bentuk stres tanaman yaitu stress suhu, stres air, stres radiasi, stres bahan kimia dan stres angin, tekanan, bunyi dan lainnya. Stres garam termasuk stres bahan kimia yang meliputi garam, ion-ion, gas, herbisida, insektisida dan lain sebagainya. (Harjadi , S.S. dan S. Yahya,1988). Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garam-garam terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl,NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air.

Stress garam sangat erat kaitannya dengan potensial osmotik pada larutan hara. Dengan meningkatnya konsentrasi linarut atau garam hara (CaCl2), maka potensial osmotik di sekitar tanaman sangat meningkat sedangkan potensial air murni menurun yang mengakibatkan energi bebas air menurun. Hal ini menyebabkan jumlah air yang masuk ke dalam akar akan berkurang sehingga mengakibatkan menipisnya jumlah persediaan air dalam tanaman walaupun sebenarnya air di luar tanaman itu cukup. (Fitter et al., 1991). Keadaan yang demikian dikenal dengan kekeringan fisiologis. Kekeringan fisiologis atau tingkat salinitas yang cukup parah akan menimbulkan stres dan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan tanaman.

Menurut Mengel dan Kirkby, (1987) salinitas dapat berpengaruh menghambat pertumbuhan tanaman dengan dua cara yaitu : a. Dengan merusak sel-sel yang sedang tumbuh sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. b. Dengan membatasi jumlah suplai hasil-hasil metabolisme esensial bagi pertumbuhan sel melalui pembentukan tyloses. Salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomassa tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan.

  1. III. Hasil Pengamatan
Larutan NaCl2 Panjang Batang (cm) Keadaan pada Hari Ke- Penggnaan air
Awal Akhir Penambahan 2 7
Air destilata

0,01

0,02

0,03

0,05

0,1

0,2

15,1

14

16,5

15,7

13,9

17,5

15,8

15,1

15

16,5

15,95

15,15

17,45

16,75

0

-1

0

0,25

2,25

-0,5

0,95

Tanaman 1 mati, tanaman 2 subur

Tan 1 dan 2 subur

Tanaman 1 dan 2 subur

Tanaman 1 dan 2 subur

Tan 1 dan 2 subur

Tanaman 1 dan 2 subur

Tanaman 1 dan 2 subur

Daun subur, jumlah daun 5, akar bagus, batang kokoh

Tan 1 dan 2 mati

Ujung akar dan batang agak layu,

Akar busuk, daun karatan, tangkai agak layu

Tan 1 dan 2 mati

Ujung akar layu, tangkai kurang kokoh

Daun patah, ujung akar lau, tangkai tidak kokoh

4 ml

5 ml

5 ml

8 ml

6 ml

4 ml

24 ml

  1. IV. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan selama satu minggu diperoleh data bahwa perbedaan konsentrasi CaCl2 yang diberikan pada tanaman menghasilkan respon yang berbeda pula dari tanaman. Keadaan tanaman kontrol yang tidak diberikan CaCl2 pada hari ke tujuh menunjukkan pekembangan yang positif terutama dalam dalam jumlah daun dan kondisi tanaman yang tetap subur. Hal ini berbeda dengan enam tanaman lain yang diberi perlakuan CaCl2. Tanaman-tanaman tersebut sebagian besar layu bahkan terdapat tanaman yang mengalami pengurangan panjang. Hal ini sangat erat kaitannya dengan potensial osmotik dan stress garam yang terjadi pada tumbuhan akibat peningkatan konsentrasi CaCl2 yang bersifat garam.

Tanaman yang diberi CaCl2 memiliki potensial osmotik yang kecil (nilai negatifnya besar) dibandingkan dengan air destilata. Semakin besar konsentrasi garam hara yang diberikan maka semakin besar pula nilai negatif dari potensial osmotik. Nilai negatif yang besar dari potensial osmotik  menyebabkan energi bebas air akan menurun sehingga penyerapan air juga akan berkurang. Akhirnya pertumbuhan tanaman akan terganggu.

Pada percobaan diperoleh data yang kurang sesuai dengan konsep di atas. Tanaman yang diberi larutan CaCl2 0,2 M (memiliki salinitas tinggi) menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan tanaman-tanaman lain yang diberi CaCl2 dengan konsentrasi yang lebih rendah dilihat dari penambahan air yang diberikan. Seharusnya tanaman ini tidak menyerap air yang banyak karena konsentrasi solut sangat tinggi dan potensial air rendah.

Demikian pula yang terjadi pada penambahan panjang tanaman. Tanaman yang diberi larutan CaCl2 0,2 M justru mengalami penambahan panjang yang kedua terbesar setelah tanaman yang diberi CaCl2 0,05 M sedangkan tumbuhan kontrol tidak mengalami perubahan panjang. Adanya kesalahan ini dapat disebabkan, kondisi awal tumbuhan yang tidak sama, baik itu dalam hal ukuran maupun dalam hal fisiologi tumuhan, pemberian konsentrasi yang tidak sesuai, dan kekurangtelitian praktikan dalam melakukan pengukuran panjang.

Menurunnya panjang total tanaman dan luas daun seperti pada tanaman dengan CaCl2 0,1 dan 0,01 merupakan tanggapan tanaman terhadap penyediaan air dan keadaan stes garam. Tanggapan tanaman terhadap penyediaan air ini diduga karena sel-sel daun yang masih muda dan sedang mengadakan pembentangan mengalami stress (kekurangan) air akibat salinitas. Penurunan panjang akar dan kerusakan akar terjadi dapat disebabkan tanaman mengalami cekaman osmotik karena meningkatnya konsentrasi CaCl2, sehingga pembelahan dan pembentangan sel pada ujung-ujung akar terhambat. Adanya pengurangan panjang tanaman pada pengukuran mungkin juga disebabkan karena tanaman yang layu sehingga pengukuran yang dilakukan tidak sesuai dengan panjang aslinya. Gajala lanjut yang ditimbulkan adalah kematian pada tanaman seperti yang terjadi pada tanaman dengan konsentrasi.

  1. V. Simpulan

Pemberian konsentrasi garam-garam terlarut yang berbeda dapat menimbulkan stres garam yang berbeda pula. Semakin tinggi konsentrasi garam hara, maka pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan yang tertekan dengan perubahan secara perlahan pada kondisi fisik tanaman dan panjang tanaman. Ini berkaitan dengan potensial osmotik yang nilai negatifnya semakin besar pada konsentrasi garam yang semakin tinggi sehingga potensial airnya turun.

Daftar Pustaka

Fitter, A.H. dan R.K. M. Hay, 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Jogyakarta: Gajah Mada University Press

Harjadi , S.S. dan S. Yahya, 1988. Fisiologi Stres Tanaman. Bogor: PAU IPB.

Mengel, K. dan E.A. Kirkby, 1987. Principles of Plant Nutrition. 4th Edition. Switzerland: International Potash Institute.

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Hal ini disebabkan karena terjadi stress garam pada tanaman dimana larutan hara yang diberikan mengandung konsentrasi garam yang tinggi. Hal ini menyebabkan potensial osmotik dan potensial air berkurang. Akibatnya, akar tanaman tidak mampu menyerap air pada larutan hara tersebut walaupun jumlah air yang tersedia cukup. Persedian air pada tanamanpun berkurang sehingga sebagian proses fisiologi tumbuhan terganggu. Peristiwa ini seringkali disebut kekeringan fisiologis.
  2. Pengaruh kekurangan air pada tumbuhan dapat menyebabkan kurangnya persediaan air dalam tubuh tumbuhan sehingga beberapa proses fisiologi tumbuhan terganggu, misalnya fotosintesis yang membutuhkan H2O. Apabila proses fotosintesis ini terganggu maka tumbuhan akan kekurangan sukrosa yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan tanaman. Demikian pula pengangkutan unsur-unsur hara dari akar juga akan sangat terganggu dengan kurangnya air.
  3. Pada tanah yang masam dimana konsentrasi garam tinggi yang mempengaruhi osmotic dapat dijumpai pada tanah yang mengalami evaporasi tinggi dengan hujan rendah, pada daerah pantai akibat limpasan dari air laut, dan tanah yang berasal dari bahan induk salin.

LAPORAN  PRAKTIKUM

BIOLOGI  PATOGEN TUMBUHAN

PENULARAN SECARA MEKANIS

Disusun oleh kelompok 4:

Elysa Fitri                               (A34080001)

Hamdayanty                           (A34080022)

Dosen pengajar : Endang Nurhayati, PhD

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

PENDAHULUAN

Latar belakang

Virus adalah parasit obligat yang harus dapat menemukan tanaman inangnya untuk dapat bertahan hidup. Virus yang mempunyai tanaman inang berumur pendek harus dapat menular ke tanaman lain sebelum tanaman inangnya mati. Penularan virus tumbuhan dapat terjadi dengan beberapa cara. Di alam, umumnya penukaran terjadi dengan perantara vertor misanya serangga, nematoda dan jamur. Beberapa juga dapat menular di lapangan melalui gesekan mekanis antara daun tanaman sakit dan sehat.

Virus yang  menular secara mekanis di lapangan hanya terjadi untuk virus yang stabil dan mempunyai konsentrasi tinggi dalam tanaman inang, seperti TMV dan PVX. Beberapa virus dapat menular melalui polen dan benih yang berasal dari tanaman induk yang teriveksi virus. Penularan virus dapat pula melalui pembiakan vegetatif (cangkok, okulasi, penyambungan, dan kultur jaringan).

Penularan virus yang sering diterapkan di laboratorium adalah penularan secara mekanis. Penularan dengan cara ini bertujuan untuk mengetahui sifat virus.  Hal yang harus diperhatikan pada perlakuan penularan virus secara mekanis adalah pemilihan tanaman uji dan teknik pembuatan sap tanaman sumber inokulum. Tanaman uji yang digunakan sebaiknya tanaman yang rentan.

Tanaman yang terinfeksi virus dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan. Gejala tersebut dapat berupa gejala eksternal yang dapat dilihat secara kasat mata dan gejala internalyang membutuhkan pengamatan di bawah mikroskop. Gejala eksternal atau gejala luar diantarnya adalah gejala local dan gejala sistemik.

Tujuan

Untuk mengetahui gejala awal pada tanaman yang terinfeksi virus dari penularan virus secara mekanis, dan untuk mempelajari teknik penularan virus secara mekanis.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Bahan dan alat yang digunakan untuk percobaan penularan secara mekanis yaitu: Mortar dan penumbuk, serbuk Carborundum 600 mesh, gelas ukur 100 ml, tanaman indikator Chenopodium amaranticolor, sumber inokulum virus dari daun tanaman yang terinfeksi virus mosaik tembakau (Tobacco mosaic virus/ TMV), dan larutan bufer.

Metode

Untuk dapat mengamati gajala yang muncul pada tanaman akibat penularan virus secara mekanik, harus dilakukan beberapa langkah. Pertama adalah sap tanaman yang terinveksi virus TMV disiapkan. Sap ini diperoleh dengan menggerus daun tanaman tembakau yang terinfeksi virus dengan mortar. Faktor pengenceran yang digunakan adalah 1:10 dengan air. Sap ini disunakan sebagai sumber inokulum yang akan dioleskan ke tanaman indicator yang sehat.

Daun tanaman indikator yang akan diinokulasi ditaburi serbuk Carborundum. Daun yang dijadikan indikator berjumlah dua. Masing-masing daun diberi label, daun 1 dan daun 2 pada tangkai daunnya. Daun yang dipilih sebaiknya daun yang perkembangannya telah sempurna, tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda. Setelah itu, sap yang telah disiapkan dioles pada permukaan atas daun yang telah ditaburi Carborundum. Cara mengolesinya adalah dengan menggunakan tangan satu sampai tiga kali dengan arah dari pangkal daun ke ujung daun. Pengolesan dilakukan searah, tidak bolak balik. Pada saat mengoleskan sap, permukaan daun dapat ditopang dengan tangan menggunakan alas plastik untuk mencegah kontaminasi. . Pengolesan sap dilakukan secara lembut. Pengolesan yang keras terhadap daun dapat merusak jaringan daun.

Hasil dari pengolesan kemudian dicuci dengan air mengalir. Setelah inokulasi selesai, tanaman ditempatkan pada tempat pemeliharaan dengan penyinran matahari langsung dan dilakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul, berupa gejala lokal atau gejala sistemik. Pengamatan ini dilakukan selama dua minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data kelas:

TANAMAN MASAINKUBASI

(HARI)

TIPE GEJALA
LL S
Kontrol
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
Ulangan 6
Ulangan 7

Pengamatan Harian (2 minggu)

Hari ke- Daun Gejala
1 1

2

2 1

2

3 1

2

4 1

2

5 1

2

6 1

2

7 1

2

8 1

2

9 1

2

10 1

2

11 1

2

12 1

2

13 1

2

14 1

2

Pembahasan

Penyebaran virus dalam tanaman ditularkan melalui vektor serangga, penularan secara mekanis, dan penempelan umbi. Praktikum kali ini membuktikan salah satu cara penyebaran virus dalam tanaman yaitu penularan secara mekanis. Penularan secara mekanis adalah pengolesan cairan yang mengandung virus pada permukaan daun, sedemikian rupa sehingga virus dapat masuk ke dalam sel. Karena virus hanya dapat masuk ke dalam sel tanaman melalui luka, maka digunakan Carborundum untuk menimbulkan pelukaan pada permukaan jaring daun.

Gejala eksternal merupakan gejala penyakit yang kasatmata, yang dapat dilihat secara langsung tanpa bantuan mikroskop. Secara umum, gejala eksternal diakibatkan oleh infeksi primer pada sel yang diinokulasi dan oleh infeksi sekunder akibat penyebaran virus dari situs infeksi primer ke bagian lain dari tanaman inang. Gejala infeksi primer pada daun yang diinokulasi disebut gejala lokal. Gejala tersebut dapat dibedakan dengan jaringan di sekitarnya yang berbentuk bercak. Dalam virologi tumbuhan gejala itu disebut sebagai gejala bercak lokal. Bercak lokal mempunyai ukuran yang beragam dan dapat berupa klorosis karena hilang atau berkurangnya klorofil atau nekrosis karena terjadinya kematian sel tanaman inang. Namun, virus yang diinokulasi pada tanaman inang tidak hanya terbatas pada situs infeksi primer, tetapi dapat pula menyebar ke bagian lain dan menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. Infeksi yang demikian disebut juga dengan infeksi sistemik dan gejalanya secara umum disebut gejala sistemik. Gejala sistemik yang disebabkan oleh virus pada tanaman inang dapat dibagi menjadi gejala eksternal yang kasatmata dan gejala internal. Namun yang akan kita amati hanyalah gejala eksternal. Gejala-gejala eksternal tersebut antara lain: bantut (stunting) yaitu apabila ukuran tanaman yang terinfeksi virus lebih kecil bila dibandingkan dengan tanaman normal, mosaik yaitu gejala yang menunjukan adanya bagian daun yang menunjukan warna berbeda secara tidak teratur, seperti warna hijau tua yang diselingi dengan hijau muda, bercak cincin yaitu gejala pada bagian tanaman yang terinfeksi dilingkari garis berbentuk cincin yang merupakan sel yang terinfeksi, layu (Wilting) yaitu gejala yang sering diikuti oleh kematian tanaman seperti tanaman yang terinfeksi virus, akibat dari nekrosis pada sistem pembuluh tanaman, malabentuk daun yaitu menimbulkan perubahan sitologi sel tanaman, seperti bentuk dan ukuran kloroplas, penggumpalan kloroplas, berkurangnya jumlah klorofil total daun, serta terjadinya penumpukan karbohidrat pada daun.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Akin, Hasriadi Mat. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

L. Bos. 1983. Pengantar Virologi Tumbuhan. Triharso, penerjemah. Terjemahan Dari: Introduction to Plant Virolology. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Pracaya. 2007. Hama & Penyakit Tumbuhan Edisi Revisi. Salatiga: Agriwawasan.

Semangun, Haryono. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

EKSTRAKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA YANG BERASAL DARI TANAH DAN AKAR TANAMAN

Elysa Fitri        A34080001

Hamdayanty   A34080022

Dr. Ir. Supramana,Msi

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nematoda berasal dari bahasa Yunani yang berarti benang, berbentuk memanjang seperti tabung, kadang-kadang sebagai kumparan yang dapat bergerak seperti ular. Nematoda ini ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit. Nematoda parasitik dapat hidup pada semua bagian tumbuhan termasuk pada kuncup bunga, daun, batang dan akar. Mereka mempunyai kebiasan makan yang sangat bervariasi.

Peran nematoda sebagai parasit tumbuhan telah menyebabkan terjadinya kerusakan tanaman hampir di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan jatuhnya hasil pangan dunia dan menurunnya penghasilan petani. Langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah ini salah satunya dengan mengetahui jenis nematoda yang hidup pada tanaman yang terserang melalui morfologi dan fisiologinya. Nematoda yang berbeda biasanya menyerang tumbuhan yang berbeda pula sehingga cara penanganan untuk nematoda ini pun berbeda. Langkah awal yang harus ditempuh untuk mengamati nematoda ini adalah dengan mengekstrasi nematoda. Untuk itu, penguasaan akan teknik dan metode ekstrasi sangat penting untuk diketahui.

2.1. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ekstrasi dan identifikasi nematoda dari akar dan tanah adalah untuk mengetahui cara dan metode yang digunakan dalam mengekstrasi nematoda tanah dan akar, mengetahui spesies-spesies nematoda yang terdapat pada akar dan tanah tanaman setahun dan tahunan melalui struktur morfologinya, menbedakan nematode parasit dan non parasit dari struktur morfologinya dan membandingkan jumlah nematoda yang terdapat pada tanaman setahun dan tahunan.

BAB II.

BAHAN DAN METODE

1.1. Alat dan Bahan

–                Alat

Mikroskop compound, mikroskop stereo, pisau, corong dengan sambungan pipa plastik, kain tipis berpori/tissue, gelas plastik, saringan 200 mesh, botol semprot, jarum pengait nematoda, alat pengkabutan,  wadah saringan akar, cawan sirakus, pipet, timbangan, gelas ukur 10 ml, gelas objek, kaca penutup, gunting, skop.

–                Bahan

Air, tanah dan akar tanaman setahun (pisang, jagung, kana, talas), tanah dan akar tanaman tahunan (jeruk, nanas, kopi, rumput).

2.2 Metode

Metode yang digunakan dalam melakukan ekstrasi adalah metode Baermann dan metode ekstrasi dengan pengkabutan. Metode Baermann digunakan untuk mengekstrasi nematoda dari tanah sedangkan metode ekstrasi dengan pengkabutan digunakan untuk mengekstrasi akar tanaman, baik itu tanaman tahunan maupun tanaman setahun. Prinsip kerja kedua metode ini sama yaitu gerakan aktif dari nematoda dan gaya gravitasi bumi yang menyebabkan nematoda bergerak ke bawah.

Langkah awal pada pengambilan sampel untuk ekstrasi tanah dan akar sama yaitu dengan membuat lingkaran selebar diameter tajuk kemudian membuat gambar bintang di dalam lingkaran tersebut. Enam sudut dari bintang yang dibuat dipilih sebagai titik pengambilan sampel. Sampel yang diambil berasal dari kedalaman 5-20 cm dari pemukaan tanah. Massa sampel tanah yang diambil adalah 100 gram sedangkan massa sampel akar adalah 5 gram.

Tanah yang berasal dari enam sudut kemudian disatukan dan dibagi menjadi empat. Dua bagian dari sudut kiri atas dan sudut kanan atas disatukan dan yang lainnya  dibuang. Lakukan hal yang sama pada perlakuan tanah yang kedua. Contoh tanah yang terakhir kemudian diletakkan di atas kertas tissu pada wadah saringan. Wadah saringan kemudian diletakkan pada gelas plastik berisi air. Air ini harus selalu menyentuh sampel tanah. Nematoda kemudian akan bergerak ke bawah dan terkumpul di gelas plastik.

Sampel akar yang telah diambil kemudian dicuci untuk menghilangkan tanah yang melekat pada akar. Akar yang digunakan adalah akar muda yang berukuran kecil. Akar tersebut kemudian dipotong dengan ukuran ±1 cm dan ditimbang sebanyak 5 gram. Akar diletakkan di atas wadah saringan yang diletakkan di atas corong berpipa. Corong berpipa kemudian didudukkan di atas gelas plastik. Alat ekstraksi kemudian dimasukkan ke dalam ruang pengkabutan selama satu minggu.

Setelah satu minggu, gelas plastik yang berisi air ekstrasi nematoda akar dan tanah dituang ke saringan dengan sudut ±450. Saringan tersebut kemudian disemprotkan dengan air dari arah bawah sebanyak kurang lebih lima kali untuk menghilangkan sisa kotoran tanah. Setelah yakin sudah tidak ada sisa tanah yang terperangkap, hasil ekstrasi tersebut kemudian dituang ke tabung ukur sambil disemprotkan air dengan tekanan yang kecil agar tidak ada nematoda yang terperangkap di saringan. Jumlah ekstrasi yang diambil sebanyak 10 ml. Hasil ekstrasi nematoda ini kemudian dituang ke cawan sirakus.

Langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah nematoda di bawah mikroskop stereo. Caranya dengan memipet 1 ml hasil ekstrasi ke cawan sirakus lainnya kemudian menghitungnya. Langkah ini dilakukan sebanyak tiga kali. Jumlah dari ketiganya dirata-ratakan kemudian hasilnya dikali 10 ml, sebanyak hasil ekstrasi awal. Hasil ini menunjukkan jumlah nematoda dalam 10 ml ekstrasi awal.

Setelah menghitung jumlah, nematoda dipancing dengan jarum pengait kemudian diletakkan di gelas objek yang berisi air. Gelas objek kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diletakkan di mikroskop compound. Hal ini dilakukan untuk mengamati ciri-ciri morfologi nematoda yang diperoleh.

BAB III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil pengamatan

  1. Tanaman Setahun

Tabel 1. Hasil Ekstrasi Nematoda Tanah

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Bentuk
1 2 3 Rata-rata
1 Pisang 1 2 3 2 Ditylenchus

Rotylenchus

G

G

2 Jagung 7 6 6 6,33 Dolichodorus

Dolichodorus

Rotylenchus

C

S

G

3 Kana 3 3 4 3,33 Haplolaimus C
4 talas 4 3 3 3.33 Xiphinema

Ditylenchus

S

G

2. Tabel data nematoda dari akar

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Bentuk
1 2 3 Rata-rata
1 Piasang 8 17 11 12 Trichodorus

Aphelenchoides

Rotylenchus

Hemicycliophora

C dan G

I

G

S dan I

2 Jagung 9 8 5 7,33 Dolichodorus S
3 Kana 8 6 5 6,33 Tylenchorhynchus

Hemicycliophora

Ditylenchus

I

C

I

4 talas 6 4 5 5 Trichodorus

Hoplolimus

C

G

  1. Tanaman Tahunan

1. Tabel data nematoda dari tanah

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Nematoda Bentuk Nematoda
1 2 3 Rata-rata X
1 Jeruk 2 2 2 2 20 Ditylenchus

Aphelenchoides

Pratylenchus

I
I

C

2 Nanas 1 1 1 1 10 Xiphinema

Pratylenchus

I

I

3 Kopi 6 4 2 4 40 Xiphinema

Pratylenchus

I

I

4 rumput 1 1 0 2/3 20/3

2. Tabel data nematoda dari akar

No Asal Nematoda Jumlah Nematoda Jenis Nematoda Bentuk Nematoda
1 2 3 Rata-rata X
1 Jeruk 1 1 1 1 10 Criconemella G,I,&C
2 Nanas 2 3 1 2 20 Ditylenchus C
3 Kopi 3 4 2 3 30 Tylenchorhychus C
4 rumput 2 2 0 4/3 40/3 Dolichodorus I

Gambar Tylenchorinchus spp. yang terdapat pada akar kopi dengan pengamatan di bawah mikroskop compound

Literatur Tylenchorymnhus

(http:/tylenchorincus_files/G138.html)

3.2. Pembahasan

Nematoda termasuk dalam kerajaan hewan, dan spesiesnya bersifat parasit pada tumbuhan, berukuran sangat kecil yaitu antara 300 – 1000 mikron, panjangnya sampai 4 mm dan lebar 15 – 35 mikron. Ciri khas nematoda parasit adalah adanya stilet pada mulut. Ukurannya yang sangat kecil ini menyebabkan hewan ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop

Nematoda yang menyebabkan penyakit dan kerusakan pada tanaman hampir semuanya hidup pada bagian bawah permukaan tanah. Ada yang hidup bebas di tanah, bagian luar akar dan batang, dan ada pula beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap di dalam akar dan batang. Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat di dalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup. Selain itu, tertariknya nematoda oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya menyebabkan nematoda dapat melekat dan menginfeksi akar dan batang.

Pada umumnya nematoda pada tanaman tahunan lebih banyak dibandingkan tanaman setahun. Hal ini disebabkan karena telah terjadi proses reproduksi nematoda yang lebih banyak pada tanaman tahunan dibandingkan pada tanaman setahun. Selain itu, nematoda pada tanaman tahunan cenderung telah melakukan adaptasi yang kuat pada tanaman inangnya.

Gejala serangan nematoda terbagi atas dua kelompok yaitu gejala serangan di atas permukaan tanah dan gejala serangan di bawah permukaan tanah. Gejala serangan yang muncul di atas permukaan tanah menunjukkan pertumbuhan yang abnormal berupa tunas mati, batang dan daun mengkerut, serta puru biji. Hal ini disebabkan oleh luka pada tunas, titik tumbuh, dan primordial bunga. Sedangkan pertumbuhan abnormal sebagai akibat terjadinya luka pada bagian dalam batang dan daun menunjukkan gejala nekrosis, bercak dan luka daun, serta puru pada daun. Gejala serangan di bawah permukaan tanah seperti puru akar, busuk, nekrosis permukaan akar, luka pada akar, percabangan akar yang berlebihan (excessive root branching), stubby root, coarse root, dan curly trip. (http://mail.uns.ac.id)

Perlakuan yang dilakukan kelompok lima adalah ekstrasi dan perhitungan serta pengamatan ciri morfologi nematoda akar kopi. Ciri morfologi nematoda akar kopi yang diamati di bawah mikroskop compound, setelah ekstrasi dan pemancingan, sangat mendekati ciri morfologi Tylenchorymnhus yang terdapat pada literatur praktikum. Adapun klasifikasi dari nematoda jenis ini adalah sebagai berikut. Klas: Tylenchida, subklas: Tylenchina, ordo: Tylenchoidea, family: Belonolaimidae, sub family: Telotylenchinae, genus: Tylenchorhynchus. (http://tylenchorincus_files.com)

Menurut Michel Luc:1995, nematoda ini berukuran kecil (jarang berukuran lebih dari 1 mm). Tidak terdapat adanya tanda dimerfose seksual dalam bentuk di bagian anteriornya. Stilet Tylenchorymnhus berbentuk silindris langsing dengan panjang 15-30 µm, bersklerotin sedang dan membulat dengan knob miring ke belakang. Bidang lateral terdiri atas 2, 3, 4, atau 4 garis, kutikulanya kadang terbagi ke dalam blok-blok. Esofagus nematoda ini selalu berkembang dan berbatasan dengan usus dengan median bulbusnya berbentuk kumparan berukuran sedang. Kelenjar esofagus dorsal terdapat dekat dengan pangkal stilet.

Terdapat perbedaan antara nematoda jantan dan betina. Pada nematoda betina, vulvanya terletak di tengah dengan dua saluran genital yang keduanya sama-sama berkembang, satu mengarah ke anterior dan satu lagi mengarah ke posterior tubuh. Spermateka berbentuk bulat. Panjang ekornya kurang lebih sama dengan tiga kali diameter tubuh pada anal dan berbentuk kerucut sampai subsilindris dengan ujungnya membengkok. Pada nematoda jantan, ekornya memanjang, berbentuk kerucut lancip dan bursanya melebar sampai pada ujung ekor.

Tylenchoronchus spp. merupakan nematoda ektoparasit yang sebagian besar menyerang akar, khususnya akar kopi. Mereka memakan sel-sel epidermis yang terdapat di dekat rambut-rambut akar dan di daerah-daerah sel yang memanjang. Selama makan, secara individual tetap tinggal pada satu bercak dalam waktu yang singkat yaitu kurang dari 10 menit. Dengan cepat stilet ditekankan dengan kuat kepada dinding sel inang hingga dinding tersebut rusak kemuudian mengalirlah granula dari kelenjar esofagus ke stilet dan masuk ke dalam sel  (M. Luc:1995)

Akar tanaman kopi yang terserang oleh Tylenchorynchus kelihatan kurus, batang berukuran kecil, daun tua menguning dan gugur, yang tertinggal hanya daun pada ujung cabang dan batang. Daun-daun tersebut berukuran kecil, keriting dan menguning. Pada serangan berat tanaman mati, namun proses kematian berlangsung lambat. Gejala serangan nampak jelas pada musim kemarau karena akar tidak mampu menyerap air dan unsur hara sebab sebagian besar akar serabut rusak dan busuk. Rusaknya akar serabut ditandai  dengan tanaman mudah digoyang dan dicabut. (http://narutin.wordpress.com)

Berdasarkan data di atas (pada tabel hasil pengamatan) diperoleh bahwa jumlah nematoda pada akar cenderung lebih banyak dibandingkan nematoda pada tanah. Dari data diketahui pula bahwa jumlah nematoda yang terdapat pada akar tanaman setahun lebih banyak dibandingkan pada akar tanaman tahunan. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang telah disebutkan bahwa seharusnya jumlah nematoda yang terdapat pada tanaman tahunan lebih banyak dibandingkan jumlah namatoda yang terdapat pada akar tanaman setahun. Adanya kesalahan ini dapat disebabkan karena akar tanaman setahun berukuran lebih kecil dan lunak sehingga nematoda lebih mudah tersekstrasi sedangkan akar pada tanaman tahunan lebih besar dan keras sehingga nematoda susah untuk terekstrasi secara keseluruhan.

BAB IV

KESIMPULAN

Sebagian besar nematoda merupakan parasit bagi tanaman. Spesies namatoda yang berbeda menyerang tanaman yang berbeda pula. Contohnya namatoda yang terdapat pada akar kopi yaitu Tylenchoryncus spp. Terdapat berbagai bentuk nematoda yang diamati yaitu bentuk G, S, C, dan I. Ciri yang paling menonjol dari seluruh nematoda adalah adanya stilet yang berfungsi untuk menyerap makanan dari sel inang. Nematoda pada akar cenderung lebih banyak dibandingkan pada tanah. Adanya ketidaksesuaian hasil pengamatan dengan literatur mengenai jumlah nematoda yang seharusnya lebih banyak pada akar dan tanah tanaman tahunan dibandingkan pada tanaman setahun mungkin disebabkan kesalahan pada ekstrasi ataupun morfologi dari akar tanaman tahunan sendiri yang lebih keras dan besar.

DAFTAR PUSTAKA

Dropkin V. H. 1998. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Supratoyo, penerjemah. Terjemahan Dari : Introduction to Plant Nematology. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Luc M. , Sikora R. A. , dan Bridge J. 1995. Nematoda Parasitik Tumbuhan di Pertanian Subtropik dan Tropik. Supratoyo, penerjemah. Terjemahan  Dari : Plant Parasitic Nematodos in Subtropical and Tropical Agriculture. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

http://mail.uns.ac.id/~subagiya/GEJALA%20SERANGAN%20NEMATODA.html. (15 November 2009)

http://narutin.wordpress.com/2008/03/27/nematoda-akar/html. (15 November 2009)

http:// (http://tylenchorincus_files/G138.html. (15 November 2009)